PROFILE

Carlos Ghosn, Attitude Dibalik Kebangkitan Nissan

Carlos Ghosn, Attitude Dibalik Kebangkitan Nissan
Rabu, 20 Februari 2008
- Every discipline has the one -

Kedisiplinan yang tinggi biasanya akan memicu kesuksesan dan masa depan yang lebih baik. Pakem ini biasanya dijunjung oleh para peneliti, pengacara dan atlit yang mengukir prestasi untuk negaranya.

Keyakinan ini pulalah yang selalu dipegang teguh oleh Presiden dan CEO Nissan Motor Corporation dan Renault, Carlos Ghosn atau biasa dipanggil "Gohn". Pria kelahiran Brasil, 52 tahun silam ini mendapat gelar insinyur dari �ole Polytechnique pada tahun 1974 dan dari �ole des Mines di Paris tahun 1978.

Namanya mulai terdengar di industri otomotif dunia, sejak Ayah 4 anak ini bekerja sebagai Manajer Perencanaan pada industri ban Michelin, Perancis, pada tahun 1981. Perlahan-lahan kemudian ia menampuk jabatan Head of R & D. Bersamaan suksesnya Michelin, karir Ghosn ikut melambung. Hingga pada 1990, Michelin mempercayakan Ghosn sebagai Chairman dan Chief Executive Officer di cabang Amerika Utara.

Nama Ghosn saat ini besar karena kepemimpinannya di Nissan Motor. Ia menginjakkan kakinya di perusahaan asal Jepang ini pada Juni 1999 sebagai Chief Operating Officer. Kemampuannya dalam menganalisa dan membuat berbagai evaluasi, mempercepat karirnya menjadi Presiden pada tahun berikutnya. Dan pada tahun berikutnya, Juni 2001 ia sudah menduduki jabatan Chief Executive Officer (CEO).

Tidak hanya dibutuhkan seorang yang mempunyai banyak keterampilan dalam menjalankan bisnis penjualan mobil, tapi ia juga harus mencintainya. Dan kedua hal ini ada pada diri Ghosn, sehingga dia bisa membangkitkan Nissan Motor dari keterpurukan.

Ghosn memulainya dengan cara merubah paradigma berpikir bisnis orang-orang Nissan Motor yang masih memakai cara lama. Banyak kalangan dari Nissan Motor sendiri pada saat itu pesimis terhadap cara yang diambil Ghosn. Namun Ghosn mampu membuktikannya. Hanya dalam tempo 2 tahun, peraih Automotive Hall of Fame untuk Industry Leader of the Year pada January 2005 ini berhasil mengangkat Nissan Motor dari kebangkrutan dan membawa namanya kembali masuk ke dalam persaingan Industri Otomotif.

Tentunya prestasi itu tidak diraih begitu saja. Dibalik itu ada kerja keras. Ghosn membujuk Renault untuk menginvestasikan dana sebasar US$ 5,2 miliar (Rp. 45,8 trilyun) untuk menutupi hutang Nissan Motor. Hingga tahun kelima kepemimpinannya, perusahaan yang saat itu terbebani hutang sebesar US$ 22,9 miliar (Rp. 200,52 trilyun) berbalik 180 derajat memperoleh laba sebesar US$ 7 miliar (Rp. 61,6 trilyun).

Rencana menuju kebangkitan terus dipersiapkan. Ghosn mengambil langkah selanjutnya dengan menerapkan proyek Nissan Motor 180. Angka 180 di sana merupakan kependekan dari 1 juta lebih target penjualan di seluruh dunia, 8 persen tingkat keuntungan, dan 0 resiko kerugian.

Rencana tersebut membawa Nissan Motor terangkat angka penjualannya. Terbukti pada 2001 tercatat angka penjualannya mencapai 1 juta unit, dan terus bertambah pada 2004 mencapai hingga 3,6 juta unit.

Rencana matang terakhir yang keluar dari pemikiran Ghosn. Ia beri nama Nissan Motor Value Up. Rencana yang satu ini bisa dibilang untuk jangka panjang, yakni 3 tahun sejak 2001. Ghosn menerapkan sifat kepemimpinannya yang transparan. Artinya ia membiarkan seluruh jajaran pegawainya untuk mengetahui setiap kebijakan yang diambil perusahaan.

Dengan Value Up, Nissan Motor menghujani pasar dengan berbagai produknya. Di Amerika, hingga 2007 nanti akan beredar tambahan 6 varian baru hingga total menjadi 26 model. Di Eropa, akan ditambah 4 atau lebih menjadi total 23 model. Sedangkan di China akan ada 8 model atau lebih termasuk Infiniti menjadi 18 model dan ada 2 model yang akan dicomot dari line-up model di Jepang.

Baru-baru ini, Ghosn mendapat penghargaan bergengsi "Founder's Award" untuk kategori pelayanan terbaik di Industri Otomotif. Pemberi penghargaan itu, J.D Powers and Associates, mengatakan sifat kepemimpinan Ghosn yang mengilhami seluruh perusahaan mampu menghasilkan produk Nissan dan Infiniti yang berkualitas. "Seluruh dealer dan pemakai kendaraan puas dengan peningkatan kualitas produk selama Ghosn memimpin perusahaan tersebut. Ghosn adalah seorang yang ulet, memiliki integritas, dan kharismatik, " menurut wakil lembaga tersebut.

Buah dari pohon yang ditanam Ghosn akhirnya bisa ia petik. Pada 29 April 2005, Ghosn juga dipercaya untuk menjadi Presiden dan CEO Renault, tanpa meninggalkan posisinya di Nissan Motor. Di bawah kepemimpinannya kini, Nissan Motor di Amerika Serikat mengalami peningkatan penjualan mobil baru dari 752.038 unit pada tahun 2000, menjadi 1.076.667 unit di tahun 2005. Itu berarti terjadi peningkatan pendapatan sebesar lebih dari US$ 8 miliar (Rp. 70,4 trilyun), dan pada periode yang sama nilai saham meningkat dari 3,4 persen menjadi 6,4 persen.

Pribadi Ghosn yang unik juga bisa menjadi inspirasi. Ia pernah diminta untuk menjabat sebagai presiden di Lebanon, dikarenakan kedua orang tuanya berkebangsaan Lebanon. Secara fisik tidak ada yang menarik dari Ghosn. Tapi bagaimana dia bersikap dan caranya berpakaian penuh wibawa dan penghormatan. Cara bicaranya lantang, efektif dalam memilih kata-kata. Orang-orang yang dekat dengannya mengatakan, Ghosn mendengarkan dengan cermat setiap informasi dan memprosesnya dengan cepat hingga lahir sebuah keputusan, layaknya sebuah mesin.

Ia menjalani hidupnya dengan sederhana. Bangun di pagi hari, pergi bekerja, berkonsentrasi penuh pada tugas tugasnya, bekerja keras, dan kembali tidur. Mobilitasnya sangat tinggi, rata-rata ia berkeliling ke 11 negara dalam sebulan. Dimanakah Ghosn bisa ditemui saat ini? Posisinya saat ini mengharuskan dia punya 3 lokasi sebagai kantor, yakni Brasil, Paris dan Tokyo.(atpm)
TOP PROFILE