PROFILE

Satrio Hermanto, Pembalap Masa Depan

Kamis, 10 Mei 2007
Publik Balpa Tanah Air dibuat kaget dengan prestasti yang ditorehkan Satrio Minggu lalu di sirkuit Sepang.

Pembalap andalan Indonesia, Satrio Hermanto (Monorail Gudang Garam Racing Team), tampil mengejutkan publik di Sirkuit Sepang, Malaysia. Ia menempati posisi ketiga Grand Race Formula V6 Asia.

Dari total 35 putaran yang dilalui, Satrio Hermanto tampil penuh percaya diri. Padahal ia belum terbiasa dengan sistem pedal kopling yang berada di bawah steering wheel. Satrio bisa melakukan start dengan baik sehingga menyudahi lomba dengan finis ketiga. Di tikungan pertama sempat terjadi kecelakaan karena pembalap Hongkong, Adderly Fong, menabrak rekan senegaranya, Marchy Lee.

''Di luar dugaan saya naik podium pada balapan perdana Formula V6 Asia. Saya berharap dapat mempertahankan posisi tiga besar di putaran berikut pada 23-24 Juni mendatang,'' ungkap juara Formula 3 Asia 2006 itu.

Itulah Satrio Hermanto dan itulah pentas pertamanya dengan mobil Formula dan pesertanya pun datang dari berbagai negara seperti AS, Australia, Inggris, Hongkong, Jepang, Cina, Malaysia, Thailand, Filipina, Maldives, Korea Selatan, dan Jerman.

Satrio menekuni balap sejak usia tujuh pada 1992, Satrio langsung juara nasional di kelas Intercontinental A Kejurnas Gokart 1992. Setelah itu, karirnya terus cemerlang di gokart. Ia beberapa kali juara nasional di kelas Rotax Yunior hingga senior. Prestasi tertinggi di gokart ia raih pada 2005 ketika tampil di Kejuaraan Gokart Dunia 2004, di Lancarotte, Spanyol. Kala itu, bungsu dari tujuh bersaudara pasangan Johny dan Melanie Hermanto ini menembus sembilan besar dunia dari total 64 peserta dari seluruh belahan dunia, di kelas Rotax Max RM 1.
Berbekal sembilan besar dunia, ia pun banting setir ke Formula 3 Asia. Setahun tampil di Formula 3 Asia pada 2006, Satrio langsung juara umum di kelas promotion.

Dengan bekal juara umum itulah ia berani menapak ke jenjang yang lebih tinggi dengan tekad tampil penuh di total 35 seri kejuaraan Formula V6 Asia. Awalnya, Satrio memang sudah nyaris berhenti dari balap. Tapi, keluarga terus mensuportnya untuk bisa berprestasi lebih. Apalagi, kini ada jenjang yang lebih jelas untuk pembalap Indonesia yaitu bisa tampil di kejuaraan balap mobil antar negara, A1 Grand Prix.

Menurut Satrio, jika punya keinginan ke Formula 1, tentu semua pembalap sangat mengi-ngin-kannya. Tapi, melihat kondisi negara kita yang belum stabil di semua sisi keinginan itu jelas harus disimpan saja.

“Saya tak mau muluk-muluk. Kalau bilang ingin ke F1, itu seperti mimpi karena kita tentu tak punya uang banyak untuk bisa disodorkan untuk tim-tim besar. Malaysia yang kini kaya saja harus terdepak dari A1 setelah subsidi dua tahun lewat Alex Yoong. Jadi, A1 adalah target yang paling tepat untuk pembalap nasional, termasuk saya,” kata Satrio kepada SH, Rabu (9/5).

Lajang kelahiran Jakarta, 29 Juni 1984 yang mengidolakan Kimi Raikkonen (Ferrari) ini pun berharap, setelah mengukir prestasi pertama dengan naik podium ketiga di Sepang pada seri 1-2, di seri berikut ia bisa menembus peringkat kedua dan juara.

“Awalnya saya hanya menargetkan tiga besar tahun ini. Tapi, karena di seri pembuka sudah peringkat ketiga, tak ada pilihan lain, harus juara di setiap seri. Harapan saya, setting mobil akan selalu paten mendukung strategi balap saya,” kata Satrio yang mengaku belum punya pacar.

Kunjungannya ke markas tim A1 Internasional di Brand Hatch, Inggris atas undangan pemilik tim A1 Indonesia, Jack Cunningham, sepekan sebelum balap di Sepang pun, menurut Satrio, jadi kekuatan moral tersendiri baginya saat balapan. “Saya jadi makin terpacu berprestasi,” tuturnya ringan.(noni/sh)
TOP PROFILE